Perempuan Lebih Unggul? Catatan dari Survei Kecil di Kelas Saya

Ada harapan atau kemungkinan kalau matriarki bisa diterapkan dewasa ini. Meski opini yang akan dibahas di bawah punya latar belakang lemah dan terkesan "loncat jauh", serta masih butuh "jembatan-jembatan" analisis yang panjang dan masif. Tapi, sebagai semangat perubahan saya kira ini penting dibahas. Selain itu, ini bentuk keberpihakan juga atas kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.  

Selama ini laki-laki dianggap lebih mampu untuk menjadi pemimpin dibanding perempuan. Peran perempuan sering kali dikesampingkan "suaranya", apalagi perihal potensi pengambilan keputusan. Perempuan ditempatkan di bagian-bagian pendukung saja. Alasan yang biasa disampaikan (atau dipermasalahkan) adalah hormon perempuan yang sering tidak stabil. Akhirnya mendiskreditkan perempuan dengan "berpikir dengan perasaan dan tidak bisa berpikir logis". Hal ini banyak diamini berdasarkan kondisi fisik perempuan, seperti mengalami haid dan kehamilan. Belum lagi diikuti dengan anggapan fisik yang tidak sekuat laki-laki, dan sebagainya. 

Menurut saya perempuan justru lebih unggul secara kognitif dibanding laki-laki. Misalnya saja di sekolah, kita pasti ingat bagaimana kebanyakan siswi lebih punya nilai akademik yang baik dibanding siswa. Selain itu siswi juga sering mendapat ranking atau peringkat teratas, serendah-rendahnya nilai akademik, perempuan tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan baik seperti rajin mencatat materi, fokus mendengarkan materi, dan lebih banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan reviu dan apersepsi. Keunggulan kognitif ini modal utama leadership, juga modal untuk lini kehidupan lainnya dalam proses menyelesaikan masalah.    

Inilah yang saya temukan saat memberikan tes diagnostik kepada siswa berupa survei, dengan mana hasilnya menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih siap belajar. Ini dibuktikan oleh daya ingat pada materi di pembelajaran sebelumnya dan inkuisitif pada materi baru. Mereka lebih baik dibandingkan laki-laki pada rentang usia yang sama, dalam konteks ini berarti usia SMP. 

Survei yang saya lakukan bukanlah untuk menguji opini dari tulisan ini. Survei tersebut sebetulnya 30 pertanyaan yang mengukur dua hal: (1) sejauh mana siswa masih mengingat materi pelajaran tahun sebelumnya, (2) apakah siswa sudah pernah mempelajari materi baru yang akan diajarkan ke depannya. Setiap jawaban diberi skor pada skala 1 sampai 5, dengan skor tinggi menunjukkan ingatan yang lebih kuat dan pengalaman belajar yang lebih banyak. Intinya, survei itu hanya untuk kebutuhan mengajar saja. Awalnya.

Skor rata-rata pada kelas laki-laki, adalah 3 dengan keterangan “lumayan ingat dan setengah pernah” mempelajari materi-materi yang disurveikan. Sementara di kelas perempuan dominan skornya 5, yang berarti “masih ingat dan sudah pernah” mempelajari materi yang akan diajarkan. Bahkan untuk hal yang sederhana seperti yang sudah disebutkan sebelumnya juga: sejauh yang saya amati, siswa perempuan lebih tanggap menerima instruksi dan materi dibandingkan siswa laki-laki. Saat survei dilakukan, sedikit dari siswi yang meminta dijelaskan ulang instruksi menjawab survei tersebut, sementara siswa laki-laki sebaliknya.   

Berdasarkan survei tersebut, saya berpendapat seperti yang dituliskan di atas tadi. Dengan menyadari bahwa potensi dari perempuan unggul secara kognitif, jika ini konsisten, maka sudah saatnya perempuan mendapat lebih banyak ruang dan kepercayaan untuk menerima porsi kepemimpinan, bahkan mungkin untuk mengupgrade peradaban. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan jika memang perempuan memegang dan memimpin suatu sistem. 

Meski begitu, akan ada yang mengatakan kalau laki-laki lebih teruji sebagai pemimpin karena para ilmuan, ahli, dan seniman, kebanyakan dari kalangan laki-laki. Jadi bagaimana mungkin perempuan bisa mengurusi sistem atau menjadi pemimpin? Memang ada istilah seni memimpin. Selain itu, pemimpin harus pula cekatan dan berpikir secara brilian seperti para ilmuan. Ditambah mesti punya kontrol diri alias ketenangan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan. Kenapa perempuan "seperti" tidak punya semua itu? 

Menurut saya ini karena peradaban selalu memberi batasan pada perempuan dengan menempatkan perempuan di dapur dan di rumah bordir saja. Bayangkan perempuan punya kesempatan yang sama seperti murid-murid yang mengerjakan survei tadi. Keluarga yang suportif, serta pendidikan berkualitas, akan jadi penentu. Percuma jika dua penentu itu tidak dibarengi kesempatan pada ruang yang sama seperti laki-laki. Kita enggak akan tahu kalau tidak memberi porsi memimpin yang banyak untuk perempuan. Bayangkan juga untuk domain lainnya. Jika perempuan diberi akses eksplorasi seperti laki-laki, bukan hanya menjadi pemimpin, jangan-jangan jadi tukang bangunan pun akan lebih baik dari laki-laki.

Bagaimana perihal ketenangan atau kontrol diri? Perempuan sering mudah panik dan teriak-teriak ketika ada kejadian genting? Astaga... Penyakit kecenderungan mengeneralisir kita jangan-jangan turun temurun dari zaman Soeharto: PKI sama dengan atheis. Anggapan perempuan mudah panik, apalagi sampai mengatakan "berpikir dengan perasaan" adalah stigma. Terburu-buru menilai perempuan panikkan, menampik kenyataan kehidupan manusia yang begitu relatif dan situasional. Saya dan tiga teman laki-laki pernah loncat dan teriak-teriak ketakutan karena ada kecoa lari-terbang random saat kami ngeliwet di salah satu kosan teman perempuan. Sementara teman-teman perempuan hanya ketawa dan lanjut masak, kemudian salah satu dari mereka dengan tenang nyomot si kecoa lalu dibuang begitu saja. Tentu saja pemandangan nyomot kecoa itu bikin kami para lak-laki takjub. Artinya ini persoalan yang relatif. 

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan kalau argumen di atas masih rentan dan masih jauh untuk disebut valid. Tapi itu bukan poin utamanya. Poin utamanya adalah: kita mesti memberi perempuan ruang kepemimpinan yang setara, dan jangan lalu buru-buru menyimpulkan mereka tidak mampu. Apalagi kesimpulan perempuan akan gagal memimpin ditanggungkan pada yang buruk-buruk dari kepemimpinan Megawati saja. 

Data kecil dari survei di kelas saya, anekdot tentang kecoa dan kepanikan yang ternyata terbalik, semuanya cuma potongan kecil dari masalah ketimpangan yang laten dan jauh lebih rumit. Namun potongan-potongan kecil itulah yang seharusnya membawa kita untuk bertanya ulang, kenapa kepemimpinan selama ini begitu identik dengan satu jenis kelamin saja. Matriarki, sebagai gagasan, mungkin masih terlalu jauh untuk dibicarakan sebagai sistem yang siap diterapkan. Tapi sebagai ajakan untuk mempertanyakan asumsi lama tentang siapa yang "pantas" memimpin, saya kira sudah cukup mendesak untuk mulai dipikirkan bersama-sama.

*Sebetulnya esai ini juga ingin menyinggung kenapa dalil-dalil di agama islam seperti tidak merekomendasikan perempuan sebagai pemimpin, dan sering dijadikan alasan oleh para patriarki menolak perempuan sebagai pemimpin. Tapi saya enggak punya cukup wawasan untuk membedah dalil. Ditambah takut dituduh kafir.



Komentar