Catatan Seorang Wali Kelas: Kalau Kerja Pengen Libur Tapi Waktu Libur Kangen Kerja
Kalau kerja pengen libur tapi pas libur kangen kerja. Sebagian orang ngerasain hal tersebut, sekarang saya juga demikian. Saya kangen sekolah, ngajar, kangen ngobrol di kantor, dan yang pasti kangen ketemu anak-anak (siswa). Apalagi ke anak-anak kelas sendiri–anak-anak Albanisme. Tiap malem biasanya grup anak-anak rame ngomongin tugas, ngomongin pengen bikin inisiatif ini-itu, atau sekedar bercanda dan berantem-berantem kecil. Kalau grup wali murid enggak serame grup anak-anak tapi biasanya langsung chat pribadi: nanyain sesuatu, mastiin informasi, nyampein saran, ngingetin saya kalau harus kirim surat edaran, dll. Hal-hal kaya gitu yang justru pas liburan, sekarang saya malah ngerasa ada yang kurang. Agaknya berlebihan kalau mesti dibilang kangen tapi, ya, sementara istilah itu yang mendekati perasaan kurang tadi.
Kalau di sekolah, biasanya sebagian anak Albanisme nyamperin meja saya dan berkerumun buat cerita atau sekedar ngelempar jokes. Sebagian lagi main-main di kelas. Kadang, kalau enggak pada cerita dan lagi main di kelas, saya suka kelepasan ikut main. Masih mending mainnya yang wajar-wajar dan nggak riskan ngerusak fasilitas kelas. Tapi kaya main voli atau bola sepak (sekedar tendang-tendangan biasa), pake bola kertas atau bola entah dari mana, saya suka khilaf ikutan main sama mereka. Seru, sih. Tentu saya tahu itu tidak baik, makanya enggak saya lakuin lagi dan minta anak-anak untuk stop main di dalam kelas.
Beberapa minggu sebelum liburan aktivitas bareng mereka lumayan lebih berkesan. Jadi, Albanisme salah satu kelas yang kata murid-murid lain banyak pemain-pemain bola yang jago. Di beberapa Minggu itulah saya main bola bareng mereka dan liat talenta permainan bola mereka yang cukup bikin saya kagum.
Enggak hanya perihal sepak bola, main volinya pun jago-jago. Kalau ngomongin minat-bakat. Selain olahraga. Saya senang ketika tahu Anak Albanisme juga banyak yang tekun dan berminat lebih ke bidang bahasa, teknologi dan media digital. Sayangnya saya enggak bisa pantau dan bantu lebih buat anak-anak yang senang di bidang bahasa, tapi urusan ini setidaknya bisa dibantu sama guru bilingual. Dan untuk urusan teknologi dan media digital Alhamdulillah sejauh ini saya bisa bantu. Bangga rasanya pas ada anak yang minta rekomendasi kelas online bahasa pemrograman, nanya-nanya seputar desain grafis-videografi, atau sekedar ngomongin game, spek-spek lapto, hacking, atau kaya sekedar nanya-nanya perawatan laptop.
Pas bagi rapot kemarin, senang juga rasanya saya bisa ngomongin lebih banyak dari yang saya sebutin di atas ke para wali murid atau masing-masing orang tua perihal perkembangan, prestasi atau minat-bakat anak-anak albanisme. Misalnya, enggak cuma olahraga, atau keteknologian. Anak-anak yang ekspresif di bidang seni pun ada meski enggak dominan. Ditambah, setiap anak punya minat lebih dari satu bidang. Enggak cuma fokus di olahraga, tapi ada juga yang tekun di olahraga sekaligus di seni. Atau ada juga yang tekun di seni sekaligus tekun di keteknologiannya.
Pembagian rapot kemarin menyenangkan, akhirnya bisa ketemu sama orang tua dari setiap anak-anak albanisme. Pertemuan-pertemuan dengan orang tua albanisme selama satu semester kemarin enggak banyak, hanya di acara-acara tertentu, itupun enggak semua orang tua albanisme hadir. Tentu saya enggak keberatan sama hal itu. Di pertemuan dengan para orang tua kemarin saya belajar betapa pentingnya kolaborasi antara pihak sekolah (terutama bagi wali kelas) dan para orang tua dalam hal perkembangan anak. Mulanya saya cukup yakin dengan setiap penilaian atau pengamatan saya atas anak-anak albanisme. Namun di beberapa hari sebelum pembagian rapot saya mulai ragu. Saya khawatir apa yang nilai dan saya sampaikan ke para orang tua itu enggak akurat. Dari situlah saya bikin semacam form atau pengisian survei online untuk guru-guru lain bisa mengisi dan memberikan setidaknya komentar untuk anak-anak albanisme selama proses pembelajaran sebelum-sebelumnya. Rasanya kaya sok tahu aja kalau cuma dari sepanjang yang saya nilai.
Selain itu, bisa dengar cerita setiap orang tua tentang anaknya adalah informasi penting. Dan ini jadi hal yang menyenangkan selanjutnya. Tanpa cerita dari orang tua rasanya wali kelas agak kesulitan untuk memberikan treatment khusus ke masing-masing anak. Alhamdulillah di pembagian rapot kemarin hampir semua orang tua antusias menceritakan bagaimana anak-anaknya di rumah: tentang karakter-karakter yang belum saya ketahui, kebiasaan unik, dll. Dengan cerita dari para orang tua, saya jadi punya bahan baru untuk memberi arahan, agar masing-masing anak terfasilitasi perkembangannya. Atau gampangnya, bahan untuk kasih treatment khusus ke masing-masing anak tadi.
Ngomong-ngomong, ini saya jadiin lanjutan dari tulisan saya sebelumnya aja, deh, klik di sini. Soalnya nyambung sama poin yang ngomongin pengalaman pertama saya jadi wali kelas. Jangan tanya kenapa hal-hal yang menjengkelkan pertama jadi guru enggak dibahas lebih, ya. Soalnya emang kurang menarik aja gitu. Dan untuk kebaikan bersama juga.
Oke. Lanjut.
Enggak jarang ada yang nanya, gimana rasanya pertama kali jadi wali kelas? Itu pertanyaan yang seru untuk dijawab karena alasannya akan sangat-sangat personal. Kalau mau jawab klise mah gampang, tinggal bilang mengasyikan dst. Di bawah ini, perasaan jujur yang paling serius di pengalaman pertama jadi wali kelas
Jadi dibanding guru dan murid, hubungan saya sama anak-anak kaya ketua ke pasukannya. Sebentar, jangan langsung emosi dulu. Saya pastikan saya enggak pernah memperlakukan albanisme kaya tuan dan pelayan. Ketua dan pasukan di sini maksudnya, boleh jadi karena mereka lihat saya sebagai orang lebih tua dan ada kewajiban moral untuk menghormati saya, maka apapun yang saya katakan mereka akan langsung patuh.
Isengnya saya, selain saya manfaatkan kesempatan itu untuk menegaskan dan menyadarkan mereka atas pentingnya belajar dan sadar akan peraturan sekolah, saya manfaatkan juga misalnya untuk pertandingan futsal antar kelas kemarin. Saya bilang kelasnya Jihad lawan paling berbahaya dalam futsal atau sepak bola. Jadi kalau kesulitan "bunuh" aja lawan yang merepotkan. Tentu saya enggak serius dan bercanda bilang bunuhnya, itupun kata ganti aja untuk bilang ke mereka buat pergerakan agar lawan lebih kesulitan masuk ke pertahanan. Mereka pun paham dan hasilnya tentu saja salah satu pemain Albanisme diberi kartu kuning, dan bikin dua pelanggaran lainnya waktu lawan kelas jihad.
Artinya, di masa muda mereka yang senang berapi-api kalau dikasih api. Kemudian pada saatnya saya iseng untuk provokasi sesuatu dan ternyata provokasinya mereka terima maka mereka bukan hanya patuh, tapi akan melakukannya di luar perkiraan saya. Di atas tadi salah satu contohnya.
Kurang lebih itu lah yang selewat saya pikirkan di hari libur kesembilan ini. Saya harap di semester dua nanti hal-hal baik di semester satu tetap bertahan dan bisa bertambah. Apalagi untuk kekurangan-kekurangan di semester satu dapat saya perbaiki di semester dua mendatang. Keseharian atau aktivitas di kelas mau di grup WA juga segera kembali seperti biasa ketika masuk nanti.
Enggak ada penutup yang paling bijaksana selain ucapan terima kasih. Terima kasih buat teman-teman albanisme, harapannya apapun yang terjadi di semester dua nanti kita harus tetap solid. Tingkatkan daya juang untuk mendapatkan nilai diri, baik lewat akademik atau minta-bakat karena kelak cuma itu yang bakal orang lain lihat diri kita. Juga jadilah orang yang selalu bertanggung jawab (albanisme harusnya udah paham sama pesan ini). Nakal boleh jahat jangan. Kita manusia, mudah sekali kepeleset atau sengaja ngelakuin kenakalan. Tapi kalau kita lari dari tanggung jawab kenakalan kita, berarti kita orang yang jahat. Udah jahat, cupu lagi.

Komentar
Posting Komentar