Ada Orang yang Pekerjaanya Kompeten di Ranah Ilmu Pengetahuan tapi Minta Bantuan Terus ke "Orang Pinter"

Dari ciri keempat yang Mochtar Lubis sebutkan dalam bukunya, jelaslah bahwa masyarakat Indonesia adalah manusia yang masih percaya takhayul. Begitupula Tan malaka, pada bagian Logika Mistika dalam bukunya: Madilog, menjadi tanda eksplisit keresahan Tan Malaka atas cara berpikir masyarakat Indonesia yang percaya pada takhayul. Kecenderungan percaya pada takhayul masih banyak terjadi di daerah pedesaan atau perkampungan yang jauh dari perkotaan, sampai hari ini. Jauhnya akses menuju bacaan atau ilmu pengetahuan modern menjadi faktor utama. Hal tersebut mudah dimaklum. Hanya saja heran rasanya bagi masyarakat kota hari ini, yang elit dan punya akses ke ilmu pengetahuan modern lebih baik masih mempercayai bahkan mendasari cara berpikirnya pada takhatyul. 

Sebetulnya tak ada masyarakat kota maupun pedasaaan. Berpikir secara mistik harusnya tidak berkaitan dengan tempat. Selayaknya berpikir, persoalanya berarti ada pada pengelolaan akal dan aktivitas mental. Tapi bagaimana mungkin masyarakat pekotaan yang punya akses ke pengetahuan modern lebih baik namun masih percaya pada takhayul? Boleh jadi masalahnya memang pada proses kognisi masyarakat itu sendiri. Artinya mau orang kota atau orang kampung jika punya kemauan untuk belajar berlogika atau belajar ilmu pengetahuan dengan baik maka sipapun tidak akan terjerumus ke cara berpepikir mistik.

Sangat disayangkan bila orang yang pekerjaanya bersinggungan dengan ilmu pengetahuan, seperti lembaga penelitian atau universitas misalnya, malah percaya dan menggantungkan penyelesain masalah dengan takhayul. Sekali lagi, ini masalah berpikir, tak ada kaitannya dengan tempat. Nyatanya ada orang yang pekerjaanya kompeten di ranah ilmu pengetahuan justru sering datang dan minta bantuan "orang pinter". Atau percaya pada tabir mimpi. Jujur saja itu terasa janggal. di tengah banyaknya konten kreator seperti Feri Irwandi, Dzawin, Cania Cita, Gen Alfarizi, Sampai Pesulap Merah, masih ada cerita orang semacam tadi. 

Setidaknya itu terasa menggelikan karena di kondisi, lingkungan dan situasi yang tidak mendukung seseorang untuk percaya takhayul mereka malah percaya. Alih-alih untuk tak lagi bilang aneh. Rasanya ada semacam keputusasaan. Entah masalah apa atau trauma apa yang mengharuskan seseorang yang tinggal di kota, akses ilmu pngetahuan mudah, bahka mungkin seorang ahli dan bekerja di ranah ilmu pengetahuan. Tapi harus mempercayai takhayul. Terlalu kesepian mungkin? Kurang kasih sayang? Rasa kehilang yang mendalam? 

Kalau memang ada permasalahan batin, mental atau psikis yang jadi faktor, tentu hal tersebut bisa dimaklumi karena dapat dikategorikan sebagai penyakit. Tapi dari sini semuanya terasa masuk akal kenapa MUI tidak buru-buru memperkarakan Mama Gufron. 

Komentar

Postingan Populer